Rajab

SHAHIHKAH DOA BULAN RAJAB ?

اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان

Senantiasa kita mendengar do’a sebagaimana tersebut diatas, saat mendekatnya kita dengan bulan suci Ramadhan. Kebanyakan da’i atau penceramah menyandarkan do’a ini kepada Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam. Namun yang menjadi persoalan adalah, apakah benar do’a ini berasal dari Rosululloh (haditsnya shahih)?

Dikisahkan bahwa apabila masuk bulan Rajab, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca doa diatas.

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi di dalam Ad Da’awaat Al Kubra dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu seperti yang disebutkan di dalam kitab Misykaatul Mashaabih bab Al Jum’ah.

Kedudukan hadits ini: Dha’if (lemah) seperti yang dijelaskan oleh Asy-Syaikh Al Albani Rahimahullah dan Asy-Syaikh Shalih Al Fauzan di dalam fatwa terbarunya.

Nash Hadits tersebut juga telah disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad (1/259)

حدثنا عبد الله ، حدثنا عبيد الله بن عمر ، عن زائدة بن أبي الرقاد ، عن زياد النميري ، عن أنس بن مالك قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل رجب قال : اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبارك لنا في رمضان وكان يقول : ليلة الجمعة غراء ويومها أزهر .

Menceritakan kepada kami Abdullah, Ubaidullah bin Umar, dari Zaidah bin Abi ar-Raaqod, dari Ziyad an-Numairi, dari Anas bin Malik berkata ia, Adalah Nabi shallallohhu ‘alaihi wasallam apabila masuk bulan Rajab, beliau berdo’a ; “Ya Alloh berkahilah kami dibulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami kepada Bulan Ramadhan. Kemudian beliau berkata, “Pada malam jumatnya ada kemuliaan, dan siangnya ada keagungan.

Takhrij hadits,
Diriwayatkan oleh Ibn Sunny dalam “Amal Yaumi wal Lailah” (659) dari jalur ibn Mani’ dikabarkan oleh Ubaidullah bin Umar Al-Qawaririy.

Dan Baihaqiy dalam Su’abul Iman (3/375) dari jalur Abi Abdullah al-Hafidz, dikabarkan dari Abu Bakr Muhammad bin Ma’mal, dari AlFadhil bin Muhammad Asy-Sya’raniy, dari Al-Qawaririy.

Dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (6/269) dari jalur Habib bin Al-Hasan, dan ‘Ali bin Harun ia berkata, menceritakan kepada kami Yusuf Al-Qadhi, dari Muhammad bin Abi Bakr, dari Zaidah bin Abi ar-Raaqod.
Dan AlBazar dalam Musnadnya (Mukhtasar Zawaidul Bazar li Hafidz 1/285) dari jalur Ahmad bin Malik al-Qusyairi dari Zaidah.

Hadits tersebut memiliki 2 cacat,
1. Ziyad bin Abdullah An-Numairy
Berkata Yahya bin Ma’in ; Haditsnya Dhaif
Berkata Abu Hatim ; Haditsnya ditulis, tapi tidak (bisa) dijadikan Hujjah
Berkata Abu ubaid Al-Ajry ; Aku bertanya kepada Abu Daud tentangnya, maka ia mendhaifkannya.
Ibnu Hajr berkata : Ia Dhaif

2. Zaidah bin Abi Ar-Raaqod
Berkata Al-Bukhary : Haditsnya Mungkar
Abu Daud berkata : Aku tidak mengenalnya
An-Nasa’i berkata : Aku tidak tahu siapa dia
Adz-Dzahaby berkata : Tidak bisa dijadikan hujjah

Komentar Ahlul Ilmi tentang hadits ini :
Al-Baihaqiy dalam Su’abul Iman (3/375) berkata, telah menyendiri Ziyad An-Numairi dari jalur Zaidah bin Abi ar-Raqad, Al-Bukhary berkata, Hadits dari keduanya adalah mungkar.

An-Nawawy dalam Al-Adzkar (274) berkata, kami telah meriwayatkannya dan terdapat kedhaifan dalam sanadnya.

SHALAT RAGHAIB DI BULAN RAJAB

Bismillah,
Rajab adalah bulan yang dipandang orang Arab Jahiliyah dahulu memiliki arti penting dan keistimewaan dibanding bulan-bulan yang lain, sehingga mereka memberi nama bulan tersebut Rajab. Kata Rajab berasal dari kata yang bermakna menghormati dan mengagungkan, sehingga bulan rajab bermakna bulan agung. Bulan Rajab memiliki 14 nama; yaitu Rajab, Al Asham, Al Ashab, Rajm, Al Harm, Al Muqim, Al Mu’alla, Manshal As Asinnah, Manshal Al Aal, Al Mubri’ , Al Musyqisy, Syahru Al ‘Athirah dan Rajab Mudhar.

Bulan Rajab tidak memiliki keistimewaan kecuali sebagai bulan haram yang berjumlah empat. Tidak ada satu dalilpun yang sah yang menunjukkan keutamaan dan pengkhususan bulan ini dengan amal ibadah tertentu.

Namun berkembang banyak ke-bid’ah-an dibulan ini, diantaranya bid’ah shalat Raghaib.

Waktu Pelaksanaan Shalat Raghaib
Shalat Raghaib dilakukan pada awal malam Jum’at pertama bulan Rajab diantara shalat maghrib dan Isya dengan didahulukan puasa hari Kamis, yaitu Kamis pertama di bulan Rajab.

Ibnu Utsaimin berkata: “(Diantara manusia ada yang menganggap)Pada bulan Rajab ada shalat yang dinamakan Shalat Raghaib yang dikerjakan malam Jum’at pertama antara maghrib dan isya”

Tata Cara Shalat Raghaib
Tata acara shalat ini dipaparkan dalam hadits yang dihukumi sebagian ulama sebagai hadits palsu dari Anas bin Malik:

“Rajab bulan Allah dan Sya’ban bulanku serta Ramadhan bulan umatku. Orang yang berpuasa di hari Kamis yaitu awal Kamis dalam bulan Rajab kemudian shalat diantara Maghrib dan ‘Atamah (Isya)- yaitu malam Jum’at- dua belas rakaat, membaca pada setiap rakaat surat al Fatihah sekali dan surat Al Qadr tiga kali serta surat Al Ikhlas dua belas kali, shalat ini dipisah-pisah setiap dua rakaat dengan salam, jika telah selesai dari shalat tersebut maka ia bershalawat kepadaku tujuh puluh kali, kemudian mengatakan Allahhumma Sholli ‘Ala Muhammadin Al Nabi Al Umiyi Wa ‘Ala Alihi, kemudian sujud lalu menyatakan dalam sujudnya: ‘Subuhun qudusun Rabul Malaikati War Ruh’ tujuh puluh kali, lalu mengangkat kepalanya dan mengucapkan: ‘Rabb ighfirli warham wa tajaawaz amma ta’lam Inaka anta Al Aziz Al A’dzham’ tujuh puluh kali, kemudian sujud kedua dan mengucapkan seperti ucapan pada sujud yang pertama, lalu memohon kepada Allah hajatnya, maka hajatnya akan dikabulkan. Rasulullah bersabda : ‘Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, tidak ada seorang hamba laki-laki atau perempuan yang melakukan shalat ini kecuali akan Allah ampuni seluruh dosanya walaupun seperti buih lautan dan sejumlah daun pepohonan serta bias memberi syafaat dihari kiamat pada tujuh ratus keluarganya. Jika berada di malam pertama dikuburnya akan datang pahala sholat ini. Ia menemuinya dengan wajah yang berseri dan lisan yang indah, lalu menyatakan: ‘Kekasihku, berbahagialah! Kamu telah selamat dari kesulitan besar. Lalu (orang yang melakukan shalat ini) berkata: ‘Siapa kamu? Sungguh demi Allah aku belum pernah melihat wajah seindah wajahmu dan tidak pernah mendegar perkataan seindah perkataanmu serta tidak pernah mencium bau wewangian sewangi bau wangi kamu’. Lalu ia berkata: ‘Wahai kekasihku! Aku adalah pahala shalat yang telah kamu lakukan di malam itu pada bulan itu. Malam ini aku datang untuk menunaikan hakmu, menemani kesendirianmu dan menghilangkan darimu perasaan asing. Jika ditiup sangkakala maka aku akan menaungimu di tanah lapang kiamat. Maka berbahagialah karena kamu tidak akan kehilangan kebaikan dari maula-Mu (Allah) selama-lamanya.“

Dari hadits ini kita dapat meringkas tata caranya sebagai berikut:

1. Jumlah rakaat dua belas dibagi setiap dua rakaat satu salam
2. Bertakbir dengan mengucapkan Allahu Akbar
3. Membaca setiap rakaat surat Al Fatihah sekali, surat Al Qadar tiga kali dan surat Al Ikhlash dua belas kali.
4. Kemudian ruku’ dan sujud sebagaimana biasa.
5. Setelah selesai sholat mengicapkan sholawat kepada Nabi tujuh puluh kali dengan lafadz Allahhumma Sholli ‘Ala Muhammadin Al Nabi Al Umiyi Wa ‘Ala Alihi
6. Kemudian sujud dengan membaca Subuhun qudusun Rabul Malaikati Wa Al Ruh
7. Lalu bangun dan duduk dengan mengucapkan Rabb ighfirli warham wa tajaawaz amma Ta’lam Inaka anta Al Aziz Al A’zham
8. Lalu sujud lagi dan mengucapkan ucapan yang sama dengan sujud yang pertama
9. Kemudian berdoa kepada Allah sesuai dengan hajat kebutuhannya.

Demikianlah tata cara shalat Raghaib, namun hadits di atas hadits palsu yang diatas-namakan dari Rasulullah.

Kapan shalat ini Pertama kali dilaksanakan?

Shalat ini tidak pernah ada dan dilaksanakan dizaman Nabi dan para sahabatnya dan tidak pula pada tabi’in dan tabi’it tabiin. Sholat raghaib ini mulai dikenal dilakukan di Baitul Maqdis setelah tahun 480 H.

Hukumnya

Tidak diragukan lagi, hukum shalat Raghaib adalah bid’ah, karena tidak didasari dengan dalil-dalil yang shahih, menyelisihi tata cara shalat sunnah yang sudah dikenal dan tidak pernah dikenal pada zaman salafusl shalih ada yang melakukannya. Oleh karena itu Al ‘Izz bin Abdussalam menegaskan ke-bid’ah-an shalat Raghaib dalam beberapa sisi, beliau memberi peringatan tegas bagi ulama dan juga bagi ummat Islam secara umum. Adapun peringatan beliau yang khusus untuk para ulama ada dua, yaitu:

1. Seorang ulama jika melakukan shalat tersebut dapat memberi opini kepada masyarakat umum bahwa ini adalah sunnah, maka ia berdusta atas nama Rasulullah dengan amalannya yang terkadang mewakili lisannya.
2. Ulama yang melakukan shalat ini menjadi sebab orang lain berdusta atas nama Rasulullah dengan menyatakan: ‘Ini adalah salah satu sunnah beliau’. Padahal tidak boleh seseorang menjadi penyebab orang lain berdusta atas nama Rasulullah.

Sedangkan peringatan beliau (Al ‘Izz bin Abdussalam) yang ditujukan kepada umat Muslim secara umum adalah:

1. Melakukan perbuatan bid’ah sama saja memotivasi para pembuat bid’ah untuk membuat kebidahan dan kebohongan (hadits palsu). Padahal memotivasi berbuat batil dan menolongnya dilarang dalam syari’at dan meninggalkan ke-bid’ah-an dan hadits-hadits palsu dapat mencegah munculnya kebidahan dan hadits palsu. Mencegah dan memperingatkan kemungkaran termasuk ajaran penting dalam syari’at.

2. Shalat ini bertentangan dengan anjuran Nabi untuk tidak banyak bergerak dalam shalat, karena dalam shalat ini terdapat pengulangan surat Al Ikhlash dan Al Qadar. Menghitungnya tidak dapat dilakukan secara umum kecuali dengan menggerakkan sebagian anggota tubuh.

3. Shalat ini bertentangan dengan perintah khusyu‘, merendahkan diri, menghadirkan hati dalam shalat, konsentrasi kepada Allah, merasakan keagungan Allah dan memahami makna bacaan dan dzikir. Maka jika ia memperhatikan jumlah surat dengan hatinya, maka ia telah berpaling dari Allah dan meningalkanNya dengan satu perkara yang tidak disyari’atkan dalam shalat. Berpaling dengan wajah dicela dalam syari’at, apalagi berpaling dengan hati yang merupakan tujuan besar dalam shalat.

4. Shalat ini bertentangan dengan aturan yang sunnah dalam shalat nafilah (shalat yang tidak wajib), karena dianjurkankan padanya bahwa dikerjakan di rumah lebih utama dari masjid, kecuali shalat yang dikecualikan syari’at, seperti shalat istisqa’ dan kusuf. Rasulullah telah bersabda :

“Shalatnya seseorang dirumahnya lebih baik dari sholatnya di masjid kecuali sholat fardhu.”

Peringatan lain :
1. Shalat ini bertentangan dengan sunnah Nabi yaitu shalat sunah tidak dilakukan secara berjamaah, karena disunnahkan melakukannya secara bersendirian kecuali yang dikecualikan syari’at (semisal shalat tarawih) dan ke-bid’ah-an yang dibuat-buat atas nama Rasulullah ini tidak termasuk darinya.

2. Shalat ini bertentangan dengan sunnah untuk menyegerakan buka puasa, karena Rasulullah bersabda:

“Senantiasa manusia dalam kebaikan selama mereka mempercepat buka puasa“

3. Shalat ini bertentangan dengan perintah mengkonsentrasikan hati dari semua hal-hal yang menyibukkannya sebelum masuk dalam shalat, karena shalat ini dilakukan dalam keadaan lapar dan haus, apalagi di hari-hari yang sangat panas. Padahal tidak boleh shalat dengan keadaan terdapat hal-hal yang menyibukkan pikirannya yang sebenarnya dapat dihilangkan.
4. Kedua sujud (setelah selesai shalat tersebut) dilarang, karena syari’at tidak mengajarkan sujud yang tersendiri tanpa sebab sebagai amalan yang mendekatkan diri kepada Allah. Mendekatkan diri kepada Allah dengan satu ibadah memiliki sebab, syarat, waktu dan rukun-rukun tertentu yang tidak sah tanpanya. Sehingga sebagaimana tidak boleh mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan wukuf di Arafah, Mudzdalifah, melempar jumrah dan sa’I antara Shafa dan Marwa tanpa berniat haji atau umrah pada waktunya dengan sebab dan syarat-syaratnya, demikian juga tidak boleh mendekatkan diri kepada Allah dengan sujud semata -walaupun sujud adalah ibadah- kecuali jika memiliki sebab. Juga tidak mendekatkan diri kepada Allah dengan shalat dan puasa di setiap waktu dan saat. Terkadang orang bodoh merasa mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan yang menjauhkannya dari Allah tanpa disadarinya.

Seandainya kedua sujud tersebut disyari’atkan, tentu menyelisihi perintah khusyu’dan khudhu’ disebabkan sibuknya menghitung jumlah tasbih dengan batin atau lahiriyah atau dengan batin dan lahir. Rasulullah bersabda:

Al-Imam Abu Bakr Ath-thurthusi menyebutkan bahwa Abu Muhammad Al-Maqdisi berkata: “Adapun shalat rajab tidak pernah ada dinegeri kami Baitul Maqdis kecuali sejak tahun empat ratus delapan puluh hijriyah. Kami tidak pernah melihat dan mendengar perkara tersebut sebelumnya”,

berkata Al-Imam Abu Syamah rahimahullah: “Adapun shalat raghaib yang dikenal kaum muslimin sekarang adalah shalat yang dilakukan diantara dua isya’ malam jum’at pertama pada bulan rajab” (Kitab Al-Baits ‘Ala Inkaril Hawadits hal138).

berkata Al Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah: “Adapun shalat, maka tidak shahih ada shalat tertentu dibulan rajab. Hadits-hadits yang diriwayatkan tentang shalat raghaib pada malam jumat pertama dibulan rajab adalah dusta dan bathil tidak shahih, dan shalat ini adalah bid’ah dengan kesepakatan jumhur ulama’”

Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah: “tidak ada satupun hadits shahih yang dapat dijadikan sandaran tentang keutamaan bulan rajab, baik shaum, puasa dan tidak pula mengkususkan shalat malam dibulan tersebut.”,

Kemudian beliau rahimahullah menjelaskan bahwa hadits yang menjelaskan perkara diatas terbagi menjadi dua bagian, dha’if (lemah) dan maudhu’ (palsu).

Setelah itu beliau menyebutkan tatacara shalat raghaib dan berkata setelahnya: bahwa hadits tersebut palsu yang didustakan atas nama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Al-Imam Ibnush Shalah rahimahullah berkata tentang shalat raghaib: “Hadits (keutamaan bulan rajab) maudhu’, dan shalat tersebut adalah bid’ah yang muncul pertama kali pada tahun empat ratus hijriyah.”.

Al-Imam Al-Izz Abdus Salam berfatwa pada tahun enam ratus tiga puluh tujuh hijriyah bahwa shalat raghaib bid’ah munkarah, dan hadits (yang menyebutkan keutamaan shalat tersebut) palsu.”

Penutup

Shalat raghaib ini menyelisihi hadits lain yang tidak diragukan lagi keshahihannya:

Dari Abu Hurairah radhallahu anhu dari Nabi e bahwa beliau bersabda: “Janganlah kalian khususkan malam jum’at untuk shalat, dan jangan pula siangnya untuk berpuasa…” (Muttafaqun ‘alaihi)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Shalat Raghaib tidak memiliki dasar dan ia adalah ke-bid’ah-an, sehingga tidak disunnahkan berjamaah dan tidak juga sendirian. Terdapat dalam Shahih Muslim bahwa Nabi melarang pengkhususan malam jum’at dengan shalat malam atau hari Jum’at dengan puasa. Sedangkan atsar yang ada tentang hal itu adalah palsu menurut kesepakatan para ulama“

Dan beliau juga berkata: “Shalat Raghaib adalah bid’ah menurut pendapat para imam agama. Rasulullah tidak mensunnahkannya dan tidak juga seorang pun dari para khalifah beliau. Tidak pula dianggap sunnah oleh seorang pun dari para ulama agama seperti Malik, Syafi’I, Ahmad, Abu Hanifah, Al Tsauri, Al ‘Auza’I, Al Laits dan lain-lainnya. Sedangkan hadits yang diriwayatkan tentang shalat ini adalah palsu menurut ijma orang yang mengerti hadits’.

Dengan demikian jelaslah bahwa shalat Raghaib terlarang untuk dikerjakan karena ia adalah shalat yang bid’ah sebagaimana pendapat Al ‘Izz bin Abdussalam, An Nawawi, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin serta yang lainnya.
Demikianlah penjelasan dari kami mudah-mudahan bermanfaat.

Adakah Anjuran Puasa di Bulan Rajab?

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah, wa ‘ala aalihi wa shobihi ajma’in.
Sebagian orang sempat menganjurkan bahwa banyaklah puasa pada bulan Rajab. Ada pula yang menganjurkan untuk berpuasa di awal-awal bulan Rajab. Apakah betul anjuran seperti ini ada dasarnya? Silakan ditelusuri dalam pembahasan singkat berikut ini. Semoga bermanfaat.

Aku bertanya pada Sa’id bin Jubair tentang puasa Rajab dan kami saat itu sedang berada di bulan Rajab, maka ia menjawab : Aku mendengar Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berpuasa sampai kami berkata nampaknya beliau akan berpuasa seluruh bulan. Namun suatu saat beliau tidak berpuasa sampai kami berkata : Nampaknya beliau tidak akan puasa sebulan penuh.” (HR. Muslim dalam kitab Ash Shiyam. An Nawawi membawaknnya dalam Bab Puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di selain bulan ramadhan)

Sebagian orang agak sedikit bingung dalam menyikapi hadits di atas, apakah di bulan Rajab harus berpuasa sebulan penuh ataukah seperti apa?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

”Adapun mengkhususkan bulan Rajab dan Sya’ban untuk berpuasa pada seluruh harinya atau beri’tikaf pada waktu tersebut, maka tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat mengenai hal ini. Juga hal ini tidaklah dianjurkan oleh para ulama kaum muslimin. Bahkan yang terdapat dalam hadits yang shahih (riwayat Bukhari dan Muslim) dijelaskan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam biasa banyak berpuasa di bulan Sya’ban. Dan beliau dalam setahun tidaklah pernah banyak berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban, jika hal ini dibandingkan dengan bulan Ramadhan.

Adapun melakukan puasa khusus di bulan Rajab, maka sebenarnya itu semua adalah berdasarkan hadits yang seluruhnya lemah (dho’if) bahkan maudhu’ (palsu). Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadits-hadits ini sebagai sandaran. Bahkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits yang maudhu’ (palsu) dan dusta.”(Majmu’ Al Fatawa, 25/290-291)

Bahkan telah dicontohkan oleh para sahabat bahwa mereka melarang berpuasa pada seluruh hari bulan Rajab karena ditakutkan akan sama dengan puasa di bulan Ramadhan, sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh ’Umar bin Khottob. Ketika bulan Rajab, ’Umar pernah memaksa seseorang untuk makan (tidak berpuasa), lalu beliau katakan,

لَا تُشَبِّهُوهُ بِرَمَضَانَ

”Janganlah engkau menyamakan puasa di bulan ini (bulan Rajab) dengan bulan Ramadhan.” (Riwayat ini dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa, 25/290 dan beliau mengatakannya shahih. Begitu pula riwayat ini dikatakan bahwa sanadnya shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Adapun perintah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam untuk berpuasa di bulan-bulan haram yaitu bulan Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, maka ini adalah perintah untuk berpuasa pada empat bulan tersebut dan beliau tidak mengkhususkan untuk berpuasa pada bulan Rajab saja. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 25/291)

Imam Ahmad mengatakan, Sebaiknya seseorang tidak berpuasa (pada bulan Rajab) satu atau dua hari.”

Imam Asy Syafi’i mengatakan, ”Aku tidak suka jika ada orang yang menjadikan menyempurnakan puasa satu bulan penuh sebagaimana puasa di bulan Ramadhan.”

Beliau berdalil dengan hadits ’Aisyah yaitu ’Aisyah tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh pada bulan-bulan lainnya sebagaimana beliau menyempurnakan berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. (Latho-if Ma’arif, 215)

Ringkasnya, berpuasa penuh di bulan Rajab itu terlarang jika memenuhi tiga point berikut.

Jika dikhususkan berpuasa penuh pada bulan tersebut, tidak seperti bulan lainnya sehingga orang-orang awam dapat menganggapnya sama seperti puasa Ramadhan.
Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut adalah puasa yang dikhususkan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sebagaimana sunnah rawatib (sunnah yang mengiringi amalan yang wajib yaitu amalan puasa Ramadhan).
Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut memiliki keutamaan pahala yang lebih dari puasa di bulan-bulan lainnya. (Lihat Al Hawadits wal Bida’, hal. 130-131. Dinukil dari Al Bida’ Al Hawliyah, 235-236)
Kesimpulan: Tidak ada yang istimewa dengan puasa di bulan Rajab kecuali jika berpuasanya karena bulan Rajab adalah di antara bulan-bulan haram, namun tidak ada keistimewaan bulan Rajab dari bulan haram lainnya. Yang tercela sekali adalah jika puasanya sebulan penuh di bulan Rajab sama halnya dengan bulan Ramadhan atau menganggap puasa bulan Rajab lebih istimewa dari bulan lainnya. Juga tidak ada pengkhususan berpuasa pada hari tertentu atau tanggal tertentu di bulan Rajab sebagaimana yang diyakini sebagian orang.

Jika memiliki kebiasaan puasa Senin-Kamis, puasa Daud atau puasa ayyamul biid, maka tetap rutinkanlah di bulan Rajab. Semoga Allah beri taufik untuk tetap beramal sholih.

Semoga pembahasan singkat ini bermanfaat bagi pengunjung Rumaysho.com sekalian. Semoga Allah selalu memberkahi kita di bulan Rajab ini.

Nantikan penjelasan selanjutnya mengenai perayaan Isro’ Mi’roj. Semoga Allah mudahkan.

Perayaan Isro’ Mi’roj 27 Rajab dalam Tinjauan

Setiap kaum muslimin di negeri ini pasti mengetahui bahwa di bulan ini ada suatu moment yang teramat penting yaitu Isro’ Mi’roj sehingga banyak di antara kaum muslimin turut serta memeriahkannya.

Namun apakah benar dalam ajaran Islam, perayaan Isro’ Mi’roj semacam ini memiliki dasar atau tuntunan? Semoga pembahasan kali ini bisa menjawabnya. Allahumma a’in wa yassir.

Sebelum kita menilai apakah merayakan Isro’ Mi’roj ada tuntunan dalam agama ini ataukah tidak, perlu kita tinjau terlebih dahulu, apakah Isro’ Mi’roj betul terjadi pada bulan Rajab?
Perlu diketahui bahwa para ulama berselisih pendapat kapan terjadinya Isro’ Mi’roj. Ada ulama yang mengatakan pada bulan Rajab. Ada pula yang mengatakan pada bulan Ramadhan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

”Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isro’ Mi’roj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Ibnu Rajab mengatakan,

”Telah diriwayatkan bahwa di bulan Rajab ada kejadian-kejadian yang luar biasa. Namun sebenarnya riwayat tentang hal tersebut tidak ada satu pun yang shahih. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau dilahirkan pada awal malam bulan tersebut. Ada pula yang menyatakan bahwa beliau diutus pada 27 Rajab. Ada pula yang mengatakan bahwa itu terjadi pada 25 Rajab. Namun itu semua tidaklah shahih.”

Abu Syamah mengatakan, ”Sebagian orang menceritakan bahwa Isro’ Mi’roj terjadi di bulan Rajab. Namun para pakar Jarh wa Ta’dil (pengkritik perowi hadits) menyatakan bahwa klaim tersebut adalah suatu kedustaan.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 274)

Setelah kita mengetahui bahwa penetapan Isro’ Mi’roj sendiri masih diperselisihkan, lalu bagaimanakah hukum merayakannya?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

”Tidak dikenal dari seorang dari ulama kaum muslimin yang menjadikan malam Isro’ memiliki keutamaan dari malam lainnya, lebih-lebih dari malam Lailatul Qadr. Begitu pula para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak pernah mengkhususkan malam Isro’ untuk perayaan-perayaan tertentu dan mereka pun tidak menyebutkannya. Oleh karena itu, tidak diketahui tanggal pasti dari malam Isro’ tersebut.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Begitu pula Syaikhul Islam mengatakan,

“Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu idul fithri dan idul adha, pen) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab (perayaan Isro’ Mi’roj), hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan Idul Abror (ketupat lebaran)-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.” (Majmu’ Fatawa, 25/298)

Ibnul Haaj mengatakan, ”Di antara ajaran yang tidak ada tuntunan yang diada-adakan di bulan Rajab adalah perayaan malam Isro’ Mi’roj pada tanggal 27 Rajab.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 275)

Demikian pembahasan seputar perayaan Isro’ Mi’roj yang biasa dimeriahkan di bulan Rajab.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

About Hamba Allah

Mulai memikirkan kehidupan setelah mati, pertanggungjawaban kelak Starting care about life after death and responsibility as a human to God
This entry was posted in salafy ?. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s