AHLUS SUNNAH DAN TERORISME

AHLUS SUNNAH DAN TERORISME
Oleh
Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Alu an Nashr
http://almanhaj.or.id/content/3084/slash/0
Kedatangan Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Alu an Nashr di kota Solo, dalam
rangka muhibbahnya ke beberapa kota, di antaranya Solo dan Yogyakarta,
alhamdulillah telah menambahkan pemahaman di dalam beragama, khususnya
kepada Salafiyin, dan kaum Muslimin pada umumnya. Dari sesi tanya jawab,
nampak beragamnya persoalan atau perkara-perkara yang ingin diketahui kaum
Muslimin. Di antaranya persoalan yang kembali muncul ke khalayak, yakni issu
global tentang terorisme. Sebuah ironi, Salafiyin tak kurang mendapatkan
tuduhan semacam. Padahal Salafiyin berlepas diri dari sikap ekstrim seperti
itu. Bagaimanakah pandangan Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Alu an Nashr
menanggapi issu terorisme yang diarahkan kepada Salafiyin? Berikut adalah
penjelasan beliau -hafizhahullah- menanggapi pertanyaan tersebut saat
muhadharah di Masjid al Karim, Pabelan, Sukoharjo, Surakarta pada hari Ahad,
19 Februari 2006. Penjelasan beliau ini ditranskrip dan diterjemahkan oleh
Abu Abdillah Arief Budiman bin Usman Rozali dengan memberikan beberapa
catatan kaki yang diperlukan. Semoga bermanfaat. (Redaksi)
_______________________________________________________________________

Tentang tuduhan terorisme yang diarahkan kepada Salafiyin, Syaikh Dr.
Muhammad bin Musa Alu an Nashr memberikan tanggapan:

Saya (Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Alu an Nashr, Red) katakan :
Orang yang menuduh kita sebagai teroris, ia termasuk ahlul ghuluw
(berlebih-lebihan dalam tuduhannya). Ia tidak mengerti dakwah salafiyah.
Dakwah salafiyah adalah dakwah Islam. Dakwah salafiyah adalah dakwah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya [1]. Namun
demikian, tidak boleh seorang salafi (siapapun orangnya) menganggap dirinya
berakhlak seperti akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau
akhlak para sahabatnya.

Dakwah salafiyah berdiri di atas aqidah yang benar, aqidah yang Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berkeyakinan dengannya.
Dakwah salafiyah tegak di atas manhaj (jalan, metode, tata cara) Islam yang
benar dan lurus, berdiri di atas dalil. Dakwah ini benar-benar mengagungkan
as salaf ash shalih (generasi terdahulu yang shalih), dari kalangan para
sahabat dan tabi’in. Dakwah ini mengagungkan dan menghormati dalil, (berupa)
firman Allah dan (sabda) RasulNya, tidak mengutamakan dan mengedepankan
perkataan siapapun (di atas perkataan Allah dan RasulNya) betapapun tinggi
derajat dan kedudukan orang itu. Dakwah salafiyah menyeru kepada Allah,
kepada ajaran Islam yang benar, seimbang dan adil. Menyeru kepada
kelemah-lembutan dan menolak kekerasan. Maka, menuduh dakwah salafiyah
sebagai terorisme adalah dusta!

Karena, siapakah yang benar-benar menentang para teroris dan takfiriyin
(orang-orang yang sangat mudah mengafirkan orang lain tanpa sebab yang haq)
saat ini?

Siapakah mereka kalau bukan para ulama dakwah salafiyah? Mereka, yang pada
zaman ini dikenal sangat gigih membela dan berdakwah dengan dakwah salafiyah
ini. Yang paling dikenal di antara mereka, seperti al Imam al Muhaddits asy
Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, kemudian asy Syaikh al ‘Allaamah
Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baaz, asy Syaikh al ‘Allaamah Muhammad bin
Shalih al ‘Utsaimin. Kemudian murid-murid al Imam al Muhaddits asy Syaikh
Muhammad Nashiruddin al Albani, dan murid-murid mereka semua.

Merekalah yang jelas-jelas nyata paling menentang dan membantah pemikiran
terorisme ini, baik dengan tulisan-tulisan di dalam kitab-kitab mereka,
kaset-kaset kajian ilmiah mereka, dan dari seputar kajian-kajian ilmiah
mereka secara langsung. Hal ini diketahui oleh setiap munshif (orang yang
adil dalam menghukumi).

Adapun mukabir (orang yang sombong dan keras kepala) dan orang yang
mendustakan kenyataan mereka semua, maka sesungguhnya dia merupakan generasi
(pelanjut) dari tokoh-tokoh (penentang) terdahulu, (yaitu orang-orang) yang
menuduh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tukang sihir, orang
gila, pemalsu dan pembuat al Qur`an, pendusta. Mereka hanya menuduh,
menuduh, dan terus menuduh (tanpa haq dan bukti yang benar).

Namun inilah taqdir para nabi, mereka selalu didustakan oleh sebagian
umatnya. Allah berfirman:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُواْ عَلَى مَا كُذِّبُواْ
وَأُوذُواْ حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا.

Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan
tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan)
terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka. [al An’am :
34].

Oleh karena itu, demikianlah keadaan para da’i yang berdakwah kepada Allah,
keadaan para penuntut ilmu agama. Mereka akan selalu mendapatkan halangan
dan rintangan serta hambatan dari orang-orang sesat, ahli bid’ah, dan
orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah. Mereka akan disakiti oleh para
penentang itu.

Para ahli bid’ah, orang-orang sesat, dan orang-orang yang menyimpang dari
jalan Allah, (mereka) tidak akan pernah berhenti melancarkan usaha-usaha
keji (yang mereka buat), berupa provokasi, menaburkan bibit-bibit pertikaian
dan permusuhan di kalangan masyarakat, sehingga para da’i yang ikhlas
berdakwah kepada Allah dan para penuntut ilmu agama, (mereka) akan selalu
mendapatkan rintangan ini.

Ada dua pondok pesantren yang bermanhaj salaf di sebuah pulau. Setelah para
ahli bid’ah, orang-orang sesat, dan orang-orang yang menyimpang dari jalan
Allah ini mengetahui keberadaan dua pondok pesantren ini, mereka segera
menghasut masyarakat setempat, dan akhirnya merekapun berhasil menghancurkan
dan memporakporandakan ke dua pondok pesantren ini.

Tidak ada yang memacu mereka untuk melakukan tindakan keji ini, melainkan
hasad, dengki dan kebencian yang membakar dada-dada mereka terhadap para da’i
dan para penuntut ilmu agama yang benar dan lurus.

Demikianlah, karena orang sesat memang tidak akan pernah mencintai kebenaran
dan ahlinya!

Betapapun demikian, orang-orang yang berpegang teguh dengan manhaj salaf,
pasti akan tetap selalu ada. Mereka selalu konsisten di atas prinsipnya
dalam berdakwah. Tidak berpengaruh tindakan-tindakan orang yang berusaha
berbuat madharat terhadap mereka, juga orang-orang yang menyelisihi mereka,
seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ
يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ.

Akan tetap ada sekelompok dari umatku yang muncul di atas al haq
(kebenaran), tidak membahayakan mereka orang-orang yang meninggalkan (tidak
mempedulikan mereka) sampai datang urusan dari Allah, sedangkan mereka tetap
demikian [2].

Dan golongan ini, para ulama telah menafsirkan, bahwa mereka adalah ahlul
hadits dan ahlul atsar (yaitu orang-orang yang konsisten mengikuti
hadits-hadits dan jejak para as salaf ash shalih).

Maka, saya nasihati setiap muslim, hendaknya ia menjadi seorang salafi. Saya
nasihati setiap muslim, hendaknya ia menjadi seorang salafi [3]. Hendaknya
setiap muslim bermanhaj, seperti apa yang telah ditempuh oleh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sebuah manhaj yang tidak
berpihak kepada personal tertentu, atau kepada jamaah-jamaah tertentu.

As salafiyah bukanlah bayi perempuan yang baru terlahir sekarang. Bukan pula
sebuah organisasi yang baru didirikan saat ini. As salafiyah adalah ajaran
yang turun dari Allah, berupa wahyu yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada
putrinya Fathimah [4] Radhiyallahu ‘anha tatkala ia meninggal dunia :

اِلْحَقِيْ بِسَلَفِنَا الصَّالِحِ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُوْنٍ.

Bergabunglah bersama pendahulu kita yang shalih, Utsman bin Mazh’un.[5]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata (yang maknanya): “Bukan
(merupakan) aib, jika seseorang menisbahkan (menyandarkan) dirinya kepada
salaf, karena manhaj salaf adalah (manhaj yang) a’lam (lebih berilmu), ahkam
(lebih bijak dan berhukum), dan aslam (lebih selamat)”.

Karena jika tidak demikian, bagaimana kita bisa merealisasikan مَا أَناَ
عَلَيْهِ وَأَصَحَابِيْ ?!

Lihatlah! Sekarang banyak jamaah dengan bermacam-macam pola mereka, ada yang
ke barat, ada yang ke timur. Semuanya mengikuti jalannya masing-masing yang
berbeda-beda. Kecuali, hanya dakwah salafiyah yang diberkahi Allah ini.
Golongan inilah yang tetap konsisten berpegang teguh kuat-kuat dengan apa
yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berada di
atasnya.

Oleh karena itu, saya memohon kepada Allah agar mereka -baik para da’i, para
penuntut ilmu, dan orang-orang yang bermanhaj salaf ini- senantiasa
diberikan kemudahan dan keutamaan dariNya, dan agar mereka dijadikan olehNya
generasi-generasi terbaik pewaris mereka. Sesungguhnya Allah-lah yang
berkenan mengabulkan do’a ini dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu.
Tidaklah ada seorang yang menentang dakwah yang haq ini, melainkan Allah
pasti akan membinasakannya. Karena Allah akan selalu membela orang-orang
yang beriman (yang membela agamaNya).

Karenanya, seluruh model dakwah apapun (di muka bumi ini) yang berusaha
menghalang-halangi, menentang, dan merintangi dakwah salafiyah, usaha mereka
pasti sia-sia dan gagal. Bahkan yang mereka dapatkan hanyalah kerugian dan
penyesalan. Sedangkan Allah senantiasa membela dan menolong dakwah salafiyah
ini, karena Allah pasti akan menolong orang-orang yang membela agamaNya,
sebagaimana firmanNya:

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ.

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. [al Hajj : 40].

Demikianlah, akhirnya saya cukupkan jawaban saya sampai di sini. Saya
berharap bisa bertemu dengan kalian pada kesempatan yang lain, insya Allah.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun X/1427H/2006. Diterbitkan
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

About Hamba Allah

Mulai memikirkan kehidupan setelah mati, pertanggungjawaban kelak Starting care about life after death and responsibility as a human to God
This entry was posted in islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s