Apa Yang Dilihat Bukan Apa Yang didengar.

Apa Yang Dilihat Bukan Apa Yang didengar.
Orang tua menginginkan sesuatu yang baik bahkan yang terbaik buat anaknya adalah sesuatu yang lumrah, wajar. Hal ini juga meliputi harapan akan masa depan anaknya yang lebih baik dsb. Maka tidak heran bila kita sering menjumpai orang tua yang berusaha mati-matian mengejar sesuatu demi anak, demi kebaikan yang akan diberikan kepada anak-anaknya. Orang tua rela membanting tulang mencari nafkah, rela mengorbankan liburannya untuk sekadar menambah jam lemburnya, berjuang demi keluarganya, dan mengharapkan masa depan anak-anaknya yang lebih baik.
Upaya orang tua ini terlihat terutama dalam bidang pendidikan, karena saat ini hampir semua orang tua yakin bahwa masa depan yang baik dimulai dari pendidikan yang baik, dan kebanyakan orang mengartikan pendidikan di sini adalah sekolah. Pendidikan yang baik identik dengan sekolah yang baik. Hampir luput dari perhatian bahwa pendidikan yang pertama dilalui seorang anak adalah didalam keluarga. Keluargalah sekolah pertama sang anak dalam hal ini terutama adalah ibu. Maka sesungguhnya konsekuensi dari orang tua yang mengharapkan pendidikan yang baik bagi anak maka yang pertama diusahakan adalah menciptakan sekolahnya yang pertama sebagai sekolah yang baik yaitu keluarga dalam hal ini ibu dan ayahnya. Mempersiapkan ibu dan ayahnya untuk menjadi sekolah pertama yang baik bagi sang anak. Kebanyakan anak akan mengidolakan salah satu orang tua-nya, ibu atau ayahnya. Maka pendidikan yang baik disini adalah persiapan diri bagi ibu atau ayah untuk menjadi sekolah yang baik buat anak-anaknya. Ayah dan ibu harus menjadikan dirinya sebagai sosok yang siap untuk ditiru dan diteladani oleh anaknya.
Tidak bisa dipungkiri anak merupakan makhluk yang senantiasa meniru, (ini juga meliputi manusia pada umumnya) dalam hal ini tentunya dia akan meniru ibu dan ayahnya selaku sekolah pertamanya. Maka ibu dan ayahnya harus menjadi sosok yang baik untuk senantiasa ditiru atau dicontoh oleh sang anak. Siapkah kita melakukan hal tersebut? Siapkah kita menjadi contoh bagi anak-anak kita? Apa boleh buat siap tidak siap harus siap mengingat anak sudah hadir di tengah-tengah keluarga.
Sering kali yang terjadi dalam proses pendidikan anak oleh orang tua adalah tidak konsistennya antara kata dan perbuatan. Orang tua mengatakan A tetapi yang dikerjakan B. Misal orang tua mengajarkan kejujuran kepada anak, kejujuran adalah akhlak utama, akhlak mulia setiap orang harus berhiaskan akhlak ini. Ternyata dalam prakteknya berjalan lain. Suatu hari ketika ada seseorang menelpon dan orang tua segan menerima telpon tesebut maka kemudian orang tua menyuruh sang anak agar menjawab telpon tersebut dan megatakan bahwa orang tua-nya tidak ada. Ini adalah nilai yang bertentangan dengan nilai yang pertama diajarkan tadi, adanya pertentangan diantara kedua nilai tersebut akan membuat anak bingung. Pada nilai yang pertama orang tua mengajarkan kejujuran sedang pada yang kedua orang tua mengajarkan dusta kepada sang anak. Ada dua nilai yang bertentangan yang diajarkan kepada sang anak.
Hal ini juga tampak ketika orang tua mengajarkan anaknya untuk rajin shalat atau mengajarkan sang anak senantiasa shalat berjamaah di masjid bagi anak laki-laki, namun bila orang tua tidak memberi contoh dengan mengerjakan sebagaimana yang dia ajarkan tersebut, maka akan menimbulkan kebingungan bagi anak. Pada garis besarnya anak lebih mudah mencerna apa yang dilihat dari pada apa yang didengar. Karena itu contoh perbuatan yang nyata dari orang tua lebih berpengaruh daripada kata-kata yang tidak disertai tindakan. Ada yang mengatakan perbuatan lebih keras pengaruhnya daripada perkataan. Anak tidak mendengarkan apa yang kita katakan tetapi melihat apa yang kita lakukan. Ada ulama jaman dahulu yang berpesan janganlah bermaksiat kepada Allah dihadapan anak-anakmu karena itu akan menjatuhkan wibawamu. Yang tidak kalah penting yang bisa kita petik dari nasihat ulama ini adalah bila kita bermaksiat dihadapan anak-anak kita, itu sama dengan kita mengajarkan maksiat kepada anak-anak kita.
Hal yang terberat menjadi orang tua dalam hal ini adalah keteladanan. Bila kita menginginkan anak kita berakhlak baik, maka kita selaku orang tua haruslah terlebih dahulu berakhlak baik, bila kita menginginkan anak-anak kita menjadi anak yang soleh maka kita haruslah menjadi orang yang soleh terlebih dulu.

Karawang, Ba’da subuh, 26 Desember 2012
Wuryanto Budi Sulistyo

About Hamba Allah

Mulai memikirkan kehidupan setelah mati, pertanggungjawaban kelak Starting care about life after death and responsibility as a human to God
This entry was posted in islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s