Humanism, Al qur’an dan Sunnah

Pada postingan kali ini saya khusus mengupas masalah humanisme saja karena ajaran yang satu ini telah banyak diimplementasikan orang. Terbukti, dewasa ini banyak sekali kasus yang sedikit-sedikit dianggap melanggar kemanusiaan, sedikit-sedikit melanggar hak asasi manusia (HAM). Padahal jika masalahnya dikaji secara mendalam dan objektif, belum tentu seperti itu. Dengan adanya postingan ini, saya berharap kita lebih jeli dan

Cukuplah dengan Qur’an dan Sunnah sebagai pegangan hidup,
sebagai pegangan pemikiran,
untuk bisa bahagia dan sukses di dunia dan akherat.

Karena,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ

Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah,
dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
[ HR Muslim ]

beliau bersabda:

كُلُّ أُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَـى، فَقِيْلَ: وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الْsجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ أَبَى

“Setiap ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan.
Para sahabat kemudian bertanya: :
‘Siapa yang enggan itu wahai Rasulullah?’
Maka beliau menjawab:
‘Barangsiapa mentaati aku ia pasti masuk surga, dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka berarti ia enggan (masuk surga).”
[Shahih Bukhari: 7280]

-»semoga Alloh memudahkan
untuk
belajar dan memahami
Qur’an Sunnah-»

Hingga kini banyak orang yang memandang ajaran humanisme sebagai sebuah gagasan yang positif karena mengingatkan orang untuk cinta kepada sesama, memiliki toleransi, berperikemanusiaan, cinta akan perdamaian, dan persaudaraan. Akan tetapi sesungguhnya secara filosofis makna humanisme jauh lebih signifikan dari itu, karena humanisme adalah cara berpikir yang mengemukakan konsep perikemanusiaan sebagai fokus dan satu-satunya tujuan. Dengan kata lain, humanisme mengajak manusia berpaling dari Tuhan, dan hanya mementingkan keberadaan dan identitasnya sendiri. Kamus umum mendefinisikan humanisme sebagai “sebuah sistem pemikiran yang berdasarkan pada berbagai nilai, karakteristik, dan tindak tanduk yang dipercaya terbaik bagi manusia, bukannya pada otoritas supernatural mana pun”.

Definisi paling jelas tentang humanisme dikemukakan oleh salah seorang juru bicara humanisme paling terkemuka masa kini, Corliss Lamont. Dalam bukunya yang berjudul “Philosophy of Humanism”, ia menulis begini;

“ … Humanisme meyakini bahwa alam merupakan jumlah total dari realitas, bahwa materi-energi dan bukan pikiran yang merupakan bahan pembentuk alam semesta, dan bahwa entitas supernatural sama sekali tidak ada. Ketidaknyataan supernatural ini pada tingkat manusia berarti bahwa manusia tidak memiliki jiwa supernatural dan abadi; dan pada tingkat alam semesta sebagai keseluruhan, bahwa kosmos kita tidak memiliki Tuhan yang supernatural dan abadi”.

Humanisme nyaris identik dengan ateisme. Bahkan sebagian orang menggunakan humanisme sebagai nama lain bagi ajaran yang tidak mengakui adanya Tuhan tersebut, dan ini diakui oleh kaum humanis.

Ada dua manifesto penting yang diterbitkan oleh kaum humanis pada abad 20. Yang pertama dipublikasikan pada 1933 dan ditandatangani oleh sebagian orang penting masa itu. Empat puluh tahun kemudian, atau pada 1973, manifesto humanis kedua dipublikasikan demi menegaskan yang pertama, tetapi berisi beberapa tambahan yang berhubungan dengan berbagai perkembangan yang terjadi pada masa itu. Ribuan pemikir, ilmuwan, penulis, dan praktisi media menandatangani manifesto yang didukung Asosiasi Humanis Amerika tersebut, sebuah organisasi yang hingga kini masih sangat aktif.

Jika kita pelajari manifesto-manifesto itu, kita akan menemukan satu pondasi dasar pada masing-masingnya, yakni dogma ateis yang menyatakan bahwa alam semesta dan manusia tidak diciptakan, tetapi ada secara bebas; bahwa manusia tidak bertanggung jawab kepada otoritas lain apa pun selain dirinya; dan bahwa kepercayaan kepada Tuhan menghambat perkembangan pribadi dan masyarakat.

Ini lah enam pasal pertama Manifesto Humanis tersebut:

Pertama: Humanis religius memandang alam semesta ada dengan sendirinya dan tidak diciptakan.

Kedua: Humanisme percaya bahwa manusia adalah bagian dari alam dan bahwa dia muncul sebagai hasil dari proses yang berkelanjutan.

Ketiga: Dengan memegang pandangan hidup organik, humanis menemukan bahwa dualisme tradisional tentang pikiran dan jasad harus ditolak.

Keempat: Humanisme mengakui bahwa budaya religius dan peradaban manusia, sebagaimana digambarkan dengan jelas oleh antropologi dan sejarah, merupakan produk dari suatu perkembangan bertahap karena interaksinya dengan lingkungan alam dan warisan sosialnya. Individu yang lahir di dalam suatu budaya tertentu sebagian besar dibentuk oleh budaya tersebut.

Kelima: Humanisme menyatakan bahwa sifat alam semesta digambarkan oleh sains modern membuat jaminan supernatural atau kosmik apa pun bagi nilai-nilai manusia tidak dapat diterima…

Keenam: Kita yakin bahwa waktu telah berlalu bagi teisme, deisme, modernisme, dan beberapa macam “pemikiran baru”.

Enam pasal pertama pada Manifesto Humanis secara gamblang telah menjelaskan doktrin apakah humanisme itu karena jelas sekali mencerminkan sebuah filsafat umum yang berlandaskan pada materialisme dan ateisme. Bahkan dari pasal kedua kita mendapatkan jawaban mengapa Darwin menciptakan Teori Evolusi yang menyatakan bahwa manusia abad modern merupakan hasil evolusi dari kera.

Sulit dipungkiri kalau humanisme sebenarnya tak lebih dari gagasan stereotip khas dari kalangan yang mengingkari adanya Tuhan dan memusuhi agama sejati, karena pondasi utama doktrin humanisme adalah sikap antiagama dan mendewakan manusia sebagai pribadi yang lepas dari unsur supernatural. Bahkan doktrin humanisme dapat dianggap sebagai ekspresi dari sekalangan atau sekelompok orang yang merasa bahwa mereka takkan dimintai pertanggungjawaban oleh siapa pun atas apa pun yang mereka perbuat. Ini merupakan dasar utama pengingkaran terhadap Tuhan dalam sejarah panjang umat manusia.

Karenanya, sebelum Anda menelan mentah-mentah atau mengikuti sebuah doktrin, pahami dan kenali lah dahulu doktrin itu. Di dunia ini terlalu banyak kamuflase yang membungkus kepalsuan dan kebusukan, sehingga meski kemasannya sangat bagus, indah dan mewah, isinya belum tentu seperti itu. Jika sekali saja Anda terjerumus, Anda mungkin akan sulit untuk keluar lagi. Bahkan bisa saja Anda telah menjadi ateis sebelum Anda sendiri menyadarinya.

About Hamba Allah

Mulai memikirkan kehidupan setelah mati, pertanggungjawaban kelak Starting care about life after death and responsibility as a human to God
This entry was posted in islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s