MENGAPA SHOLAT SUBUH 2 RAKAAT MAGHRIB 3 RAKAAT, DAN,LAINNYA 4 RAKAAT?

dari: Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA

Suatu hari, saya bertamu ke rumah salah seorang rektor satu universitas ternama di kota Jember.

Mayoritas tamu undangan kala itu ialah dosen2 universitas tersebut.
Seusai jamuan makan malam, dan pd sesi ramah tama, pembicaraan berputar ttg urusan agama.
Tak ayal lagi saya hanyut dlm pembicaraan dng mereka.

Di tengah2 pembicaraan yg sdng asyik ada seseorang yg bertanya:
“maaf pak ustadz, saya ingin bertanya,
namun saya berharap jawabannya yg ilmiyah dan bkn jawaban klasik.
Pertanyaannya:
MENGAPA SHOLAT SUBUH 2 RAKAAT MAGHRIB 3 RAKAAT, DAN,LAINNYA 4 RAKAAT? ”

Mendapat pertanyaan ini, saya hanya bisa jawab:
“ya demikian ini ajarannya,
maka kita hanya bisa mengucapkan sami’na wa atha’na.”

Betapa terkejutnya saya
ketika penanya menimpali jawaban saya dng berkata :
“oooo jawaban klasik,
saya sdh sering dngr jawaban klasik semacam ini.”

Mendengar komentar ini sy berksimpulan bhw
penanya seorang yg terpengruh dng ilmu filsafat,
dan ternyata benar,
menurut sang rektor ternyata dia master di bidang ilmu filsafat.

Akhirnya saya balik bertanya :
“ooo bapak mau jawaban yg kontemporer?
Gampang sekali,
dan saya akan buat tantangan kpd bapak.
Kan bapak adalah seorang yg berpendidikan,
sehingga layak membuat suatu penelitian ilmiyah.
Dan krn maslah sholat nara sumbernya adalah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam
dan kebetulan beliau sdh mati,
ada baiknya bl bapak mengadakan riset di alam kubur.
Coba bapak temui Nabi di alam kubur,
dng cara mati dng bunuh diri ataau lainnya,
lalu adakan wawancara dng Beliau.
Kl sdh dapat jawaban, mkembalilah ke alam dunia,
untuk kemudian membukukan hasil wawancara bapak dng beliau.
Kl untuk pergi ke alam kubur bapak tdk punya dananya,
saya siap mendanai/ sbg sponsor riset bapak.
Toh untuk bisa sampai ke alam kubur
paling2 cuma butuh racun tikus, atau sebilah pisau saja.”

Mendengar tantangan saya rupanya bapak itu mulai merendah.

Untuk semakin memberi pelajaran kepadanya saya tdk berhenti di sini.

Saya kembali bertanya kpdnya:
“bapak kan seorang ilmuan,
saya mau bertanya,
saya mau tahu, mengapa jari jemari bapak berbeda panjangnya,
kok tidak sama panjang?
Coba bapak uraikan dng jawaban yg ilmiah, bkn jwbn klasik.”

Akhirnya bapak tsb terdiam dan malu.
Selanjutnya saya memberi penekanan kpd yg hadir kala itu
bahwa terlalu banyak hal yg ada di sekitar kita yg diluarbkemampuan nalar manusia.

Demikian Allah tegaskan pd ayat berikut:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Mereka bertanya kepadamu ttg ar-ruh,
katakan bahwa ruh adalah urusan Tuhanku,
sedangkan kalian tidaklah mendapatkan ilmu kecuali hanya sedikit.

About Hamba Allah

Mulai memikirkan kehidupan setelah mati, pertanggungjawaban kelak Starting care about life after death and responsibility as a human to God
This entry was posted in islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s