Dampak Buruk Makanan Haram bagi Seorang Muslim

oleh: Ust Kholid Syamhudi, Lc.

Era globalisasi banyak berpengaruh terhadap kehidupan manusia, tak terkecuali terhadap kaum muslimin. Karenanya, banyak orang yang mengatakan, “Yang haram saja susah, apalagi yang halal.” Satu ungkapan yang menggambarkan rendahnya kondisi keimanan dan keyakinan terhadap rahmat dan rezeki Allah.

Padahal, Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa Allah akan mencukupkan rezeki mereka. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya (yang artinya), “Dan betapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezeki sendiri. Allahlah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Ankabut:60)

Juga firman-Nya (yang artinya), “Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (Q.S. Adz-Dzariyat:57)

Dua ayat tersebut menegaskan bahwa Allah sebagai pemberi rezeki kepada semua makhluk. Lantas, Allah mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghalalkan perkara yang baik dan mengharamkan perkara yang buruk bagi manusia. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya (yang artinya), “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi, yang (namanya) mereka dapati tertulis dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari yang mungkar, menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, juga membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka, orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Alquran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Al-A’raf:157)

Makanlah yang halal dan yang baik saja

Setelah jelas semua yang dihalalkan dan yang diharamkan oleh Allah, apalagi yang menjadi halangan untuk menghindari hal yang haram dan hanya mengambil yang halal?

Seperti firman-Nya (yang artinya), “Wahai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari segala sesuatu yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan adalah musuh bagimu.” (Q.S. Al-Baqarah:168)

Apalagi bila kita bersyukur atas segala nikmat, Allah akan menambah anugerah-Nya. Namun, jika kita ingkar dan melampaui batas maka kebinasaan ada di hadapan kita. Allah berfirman (yang artinya), “Makanlah rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barang siapa ditimpa kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia!” (Q.S. Thaha:81)

Pentingnya makanan yang halal dan bahaya makanan yang haram

Permasalahan halal dan haram sangat penting sebab hal ini juga terkait dengan amal saleh dan ibadah. Di dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Muslim dan yang lainnya, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya, Allah ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik, dan bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin dengan perintah yang disampaikan-Nya kepada para rasul dalam firman-Nya, ‘Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal saleh! Sesungguhnya, Aku Maha mengetahui segala perbuatan yang kamu kerjakan.’ (Q.S. Al-Mu’minun:51)

Allah pun berfirman (yang artinya), ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu.’ (Q.S. Al-Baqarah:172)

Kemudian, beliau menyebutkan seorang laki-laki kusut seperti debu yang mengulurkan kedua tangannya ke langit sambil berdoa, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku ….’ Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia kenyang dengan makanan yang haram, maka bagaimana mungkin permohonan orang tersebut dikabulkan?” [1]

Hadis tersebut menjelaskan bahwa makanan yang dimakan seseorang mempengaruhi diterima dan tidaknya suatu amal saleh. Ibnu Rajab berkata, “Hadis ini menunjukkan bahwa amal tidak diterima dan tidak suci, kecuali dengan memakan makanan yang halal. Adapun memakan makanan yang haram, itu dapat merusak amal dan membuatnya tidak diterima.” [2]

Allah juga berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu.”

Lantas, bagaimana menghadapi syahwat dunia, terkait masa depan dunia?

Pertama, hendaknya kita berusaha menghilangkan penyebab yang membuat kita memperoleh penghasilan yang haram, yaitu dengan cara menumbuhkan rasa takut dan malu kepada Allah. Itu semua ditempuh dengan mempelajari agama Islam serta mengenal Allah dalam rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat-Nya. Dengan kata lain, hendaknya, kita mengenal akidah tauhid yang benar, sehingga rasa takut dan malu kepada Allah pun tumbuh. Selain itu, akan tumbuh pula keyakinan bahwa Allah akan memberikan rezeki sesuai dengan yang Ia takdirkan.

Kedua, menghilangkan ketamakan dan menumbuhkan sifat qana’ah (bersyukur atas apa pun yang diberikan oleh Allah). Ini pun merupakan buah dari pengetahuan kita terhadap akidah tauhid yang benar. Kita juga mencoba memahamkan diri bahwa Allah ta’ala telah menetapkan rezeki kita, sehingga kita tidak akan mati sebelum nikmat rezeki tersebut sempurna.

Ketiga, mengenal bahaya usaha yang haram dengan belajar hukum-hukum Islam, belajar membedakan hal yang halal dan hal yang haram. Dengan ini semua, kita akan mampu berupaya menghindar dari usaha yang haram karena kita tahu bahwa rezeki kita telah diciptakan oleh Allah, tinggal bagaimana kita mencarinya dengan baik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Carilah nikmat dunia dengan baik lagi cerdik.” (H.R. Al-Bazaar, 9:169; dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 898) [3]

Perhatikan pula sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut, “Siapa saja hamba yang dagingnya tumbuh dari (makanan) haram maka neraka lebih pantas baginya.”

Mudah-mudahan, hal ini membuat kita lebih berhati-hati. Wallahu Al-Muwaffiq.

Catatan kaki:
[1] Dikeluarkan oleh Muslim dalam “Az-Zakah”; no. 1015, At-Tirmidzi dalam “Tafsirul Qur’an”; no. 2989; Ahmad dalam “Baqi Musnad Al-Muktsirin, no. 1838; Ad-Darimi dalam “Ar-Riqaq”, no. 2717.
[2] Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1:260.
[3] Bagian dari hadis yang dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dalam At-Targhib wa At-Tarhib, 3:17, awalnya, “Hai Sa’id, perbaikilah makananmu! Niscaya doamu diterima.” Al-Haitsami menyebutkan, dalam Al-Mujama’, 10:294, ia berkata, “Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani; pada sanadnya terdapat perawi yang belum saya kenal. Adapun tambahan ini, sahih dengan banyak penguatnya dari Jabir dan Ka’b bin ‘Ujrah serta Abu Bakar Ash-Shiddiq, sebagaimana dalam Adh-Dha’ifah, 3:293, dan dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dengan sepertinya dalam Al-Jumu’ah, no. 614 dari Ka’b bin ‘Ujrah pada sebagian hadis panjang, yang lafalnya, ‘Sesungguhnya, tidak berkembang daging yang tumbuh dari makanan yang haram kecuali neraka yang lebih pantas baginya.'” Abu ‘Isa berkata, “Hadis ini hasan gharib, dan disahkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, no. 501.”

About Hamba Allah

Mulai memikirkan kehidupan setelah mati, pertanggungjawaban kelak Starting care about life after death and responsibility as a human to God
This entry was posted in islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s