Rawatlah orang tuamu

Assalamu alaikum

Pada saat saya membaca artikel ini maka ibu saya tercinta sudah meninggal dunia dan saya merasa sampai saat ini tidak sebentuk kerikil pun aku sudah merawat ibuku juga termasuk bapakku.
Dahulu sewaktu saya sering pulang malam atau tepatnya pagi dari discotheque, bapakku lah yang membukakan pintu dan setiap pertanyaan dari bapakku maka yang keluar dari mulutku adalah hardikan ……..
Setiap ibuku menanyakan kabar aku dan anak anakku maka akupun hanya mengatakan semuanya baik baik saja, tidak terpikir olehku ibuku ingin bertemu anaknya dan cucunya juga istriku. Karena kelelahan urusan kantor aku lebih memilih istirahat dirumah ( ibuku tinggal 60 km dari rumahku dimana beliau tinggal dengannya adikku ).
Maka saya menghimbau kepada yang lainnya , janganlah engkau sia siakan orang tuamu selagi ada. Jangan…..jangan sekali sekali………

Kisah Mengharukan Di Pengadilan Saudi

Di salah satu pengadilan Qasim, Saudi Arabia berdiri Hizan al Fuhaidi dg air mata yg bercucuran shg membasahi janggutnya! Kenapa? Krn ia kalah thd perseteruannya dg saudara kandungnya!!

Ttg apakah perseteruannya dg saudaranya?? Ttg tanah kah?? atau warisan shg mereka saling berebutan?? Bukan….Bukan krn itu semua!!

Ia kalah thd saudaranya terkait pemeliharaan ibunya yg sdh tua renta & bahkan hanya memakai sebuah cincin timah di jarinya yg telah keriput.

Seumur hidupnya, beliau tinggal dg Hizan yg selama ini menjaganya. Tatkala beliau telah manula, datanglah adiknya yg tinggal di kota lain, utk mengambil ibunya agar tinggal bersamanya, dg alasan fasilitas kesehatan dll di kota jauh lebih lengkap daripada di desa.

Namun Hizan menolak dg alasan, selama ini ia mampu utk menjaga ibunya. Perseteruan ini tdk berhenti sampai di sini, hingga berlanjut ke pengadilan. Sidang demi sidang dilalui, hingga sang hakim pun meminta agar sang ibu dihadirkan di majelis.

Kedua bersaudara ini membopong ibunya yg sudah tua renta yg beratnya sdh tdk sampai 40 Kg. Sang Hakim bertanya kepadanya, siapa yg lebih berhak tinggal bersamanya. Sang ibu memahami pertanyaan sang hakim, ia pun mnjawab , sambil menunjuk ke Hizan, “Ini mata kananku!” kemudian menunjuk ke adiknya sambil berkata, “Ini mata kiriku!!

Sang Hakim berpikir sejenak kemudian memutuskan hak kpd adik Hizan, berdasarkan kemaslahatan bagi si ibu.
Betapa mulia air mata yg dikucurkan oleh Hizan. Air mata penyesalan krn tdk bisa memelihara ibunya tatkala beliau telah menginjak usia lanjutnya.

Subhanallah!!! Betapa mulia & terhormat ibu itu yg diperebutkan oleh anak2nya dgn sedemikian rupa. Andaikata kita bisa memahami, bagaimana sang ibu mendidik kedua putranya hingga ia menjadi ratu & mutiara termahal bagi anak2nya.

Bgmn dgn masa tua kita nanti, akan seperti ibu itu kah…atau akan menjadi penghuni panti jompo. Astaghfirullah.
Ini adalah pelajaran mahal pendidikan anak dari kita shg anak begitu berbakti kpd orang tuanya.

————————————

About Hamba Allah

Mulai memikirkan kehidupan setelah mati, pertanggungjawaban kelak Starting care about life after death and responsibility as a human to God
This entry was posted in islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s