Sedekah atau Zakat 2

Memahami Beberapa Poin Penting Sebelum Bersedekah atau Menunaikan Zakat (bag 02)

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:

5. Memperhatikan siapakah sebaik-baik yang disedekahi

Orang yang paling baik untuk diberikan kepadanya sedekah adalah para kerabat yang membutuhkan kemudian baru orang lain. Mari perhatikan hadits-hadits dan perkataan para ulama rahimahumullah:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan di dalam memerdekakan budak, satu dinar yang kamu sedekahkan kepada seorang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan atas keluargamu lebih besar pahalanya yang engkau telah nafkahkan atas keluargamu.” HR. Muslim.

عن أَبَي هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى ، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ » .

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik sedekah adalah yang memperlihatkan kecukupan (setelah bersedekah-pent) dan mulailah (sedekah) dari seorang yang di bawah tanggung jawabmu (untuk menafkahinya-pent).” HR. Bukhari.

An Nawawi rahimahullah berkata:

فيه تقديم نفقة نفسه وعياله لأنها منحصرة فيه بخلاف نفقة غيرهم وفيه الابتداء بالأهم فالأهم

“Di dalam hadits ini terdapat pendahuluan nafkah atas diri pribadi dan keluarganya, karena sedekah terbatas di dalam berbeda dengan nafkah kepada selain mereka dan di dalamnya terdapat memulai yang terpenting lalu yang penting.” Lihat kitab AL Minhaj Syarah Shahih Muslim, 7/125.
Maksud dari “Mulailah (sedekah) dari seorang yang di bawah tanggung jawabmu”,
Berkata Al Munawi:

أي بمن يلزمك نفقته

“Yaitu mulai dari seorang yang wajib kamu nafkahi.”
Berkata Al Mubarakfury rahimahullah:

خطاب للمنفق أي ابدأ في الاتفاق بمن تمون ويلزمك نفقته من عيالك فإن فضل شيء فلغيرهم

“Redaksi untuk seorang yang besedekah dan maksudnya adalah mulailah dalam besedekah dari seorang yang wajib kamu nafkahi dari keluarga, dan jika tersisa maka lalu berikan untuk selain mereka.”

عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ الضَّبِّىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَهِىَ عَلَى ذِى الْقَرَابَةِ اثْنَتَانِ صِلَةٌ وَصَدَقَةٌ ».

Artinya: “Salman bin Amir Adh Dhabby radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sedekah atas seorang miskin adalah (mendapat pahala-pent) sedekah dan sedekah kepada para kerabat (mendapat pahala-pent) dua; menyambung hubungan Rahim dan sedekah.” HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 3858.

عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الصَّدَقَاتِ أَيُّهَا أَفْضَلُ؟ قَالَ :« عَلَى ذِى الرَّحِمِ الْكَاشِحِ ».

Artinya: “Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu bercerita bahwa pernah seseorang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang sedekah manakah yang paling utama?, beliau menjawab: “Sedekah kepada para kerabat yang tersembunyi (jauh).” HR. Ahmad dan Ad Darimy serta dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 1110.

6. Berharap Keutamaan bersedekah tidak mengurangi keikhlasan

Karena seorang yang ikhlas dalam bersedekah tidak mengapa berharap keutamaan sebuah amalan, bukankah;
– Allah Ta’ala berfirman di dalam Al Quran dan memerintahkan untuk mendapatkan keutamaan dari amalan

{فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ} [المائدة: 48]

Artinya: “maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” QS. Al Maidah: 48.

{خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ} [المطففين: 26]

Artinya: “laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” QS. Al MUthaffifin: 26.

{وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ} [آل عمران: 133]

Artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” QS. Ali Imrah: 133.

– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga berharap dari keutamaan sebuah amalan, dan beliau adalah hamba yang paling ikhlas

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ » .

Artinya: Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Kebanyakan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (Wahai Allah, berikanlah kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan dan jagalah kami dari api neraka)
– Allah Ta’alaa kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan keutamaan bersedekah yang begitu luar biasa, diantaranya; sedekah menjaga bahaya dan musibah, menambah harta, menjaga harta, menghapuskan dosa, mengobati sakit, dilipatkan pahala, pahalanya sampai ke kubur mendapat naungan di padang mahsyar, meredam murka Allah Ta’ala, penyebab masuk surga, terhindar dari neraka dan lain-lain. Ini semua tidaklah disebutkan kecuali sebagai motivator agar semangat bersedekah, maka jika tidak boleh berharap mendapatkan keutamaan-keutamaan dari sedekah, tidak ada faedahnya penyebutan tersebut.

7. Lebih baik bersedekah secara tersembunyi meskipun boleh bersedakah dengan terang-terangan

Disebutkan di dalam kitab Hasyiah Ibnu ‘Abidin (2/71); kebanyakan para Ahli Fikih dari madzhab Hanafi, Maliky, Syafi’ie, Hanbaly berpendapat bahwa sedekah sunnah lebih utama dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, hal ini berdasarkan:
Firman Allah Ta’ala:

{إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ } [البقرة: 271]

Artinya: “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS. Al Baqarah: 271.
Nabi Shallahu ‘alaihi wasallam pernah menyebutkan tentang tujuh kelompok manusia yang mendapatkan naungan di hari kiamat, salah satu dari mereka adalah:

« وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ ».

Artinya: “dan seorang yang bersedekah dengan sebuah sedekah lalu ia sembunyikan sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dinafkahkan oleh tangan kanannya.” HR. Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

عن أبي أمامة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « صَنَائِعُ الْمَعْرُوفِ تَقِي مَصَارِعَ السُّوءِ ، وَصَدَقَةُ السِّرِّتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ تَزِيدُ فِي الْعُمُر».

Artinya: “Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perbuatan kebaikan menahan kejadian buruk dan sedekah yang tersembunyi memadamkan kemurkaan Rabb serta menyambung hubungan rahim menambah umur.” HR. Ath Thabrani dan dihasankan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no, 3797.
Hikmah dari istimewanya sedekah yang tersembunyi:

وَلأِنَّ الإْسْرَارَ بِالتَّطَوُّعِ يَخْلُو عَنِ الرِّيَاءِ وَالْمَنِّ ، وَإِعْطَاءُ الصَّدَقَةِ سِرًّا يُرَادُ بِهِ رِضَا اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَحْدَهُ . وَنُقِل عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَوْلُهُ : صَدَقَةُ السِّرِّ فِي التَّطَوُّعِ أَفْضَل مِنْ صَدَقَةِ الْعَلاَنِيَةِ بِسَبْعِينَ ضِعْفًا.

Artinya: “Karena amalan sunnah yang tersembunyi tidak akan terkena riya dan sifat mengungkit-ngungkit pemberian, dan pemberian sedekah secara tersembunyi diinginkan dengannya keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dinukilkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sedekah secara tersembunyi dalam sedekah sunnah lebih utama daripada sedekah secara terang-terangan sebanyak 70 kali lipat. “ lihat kitab Ahkam Al Quran, Karya Ibnul Araby, 1/236.
Tetapi boleh untuk memperlihatkan sedekah terutama bagi siapa dijadikan panutan agar diikuti oleh kaum muslim lainnya, sehingga tersebar kebaikan.
Berkata Al Khathib:

: إِنْ كَانَ الْمُتَصَدِّقُ مِمَّنْ يُقْتَدَى بِهِ ، وَأَظْهَرَهَا لِيُقْتَدَى بِهِ مِنْ غَيْرِ رِيَاءٍ وَلاَ سُمْعَةٍ ، فَهُوَ أَفْضَل

“Jika seorang yang bersedekah termasuk dari seorang yang dipanuti lalu ia memperlihatkannya agar diikuti tanpa ada perasaan riya’ dan sum’ah, maka ini lebih utama.” Lihat kitab Mughni Al Muhtaj, 3/121.

8. Bersedekah dengan harta yang paling dicintai

Bersedekah dengan harta yang lebih dicintai lebih dukai oleh Allah Ta’ala, mari perhatikan beberapa ayat dan keterangannya:
Allah Ta’ala berfirman:

{لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ} [آل عمران: 92]

Artinya: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepadakebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya..” QS Ali Imran: 92.
Berkata Al Qurthuby rahimahullah:

وَالْمَعْنَى لَنْ تَكُونُوا أَبْرَارًا حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ، أَيْ : نَفَائِسِ الأْمْوَال وَكَرَائِمِهَا ، وَكَانَ السَّلَفُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ – إِذَا أَحَبُّوا شَيْئًا جَعَلُوهُ لِلَّهِ تَعَالَى . فَقَدْ وَرَدَ فِي حَدِيثٍ مُتَّفَقٍ عَلَيْهِ أَنَّ أَبَا طَلْحَةَ كَانَ أَكْثَرَ الأْنْصَارِ بِالْمَدِينَةِ مَالاً مِنْ نَخْلٍ ، وَكَانَ أَحَبُّ أَمْوَالِهِ إِلَيْهِ بَيْرَحَاءَ ، وَكَانَتْ مُسْتَقْبِلَةَ الْمَسْجِدِ ، وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُهَا وَيَشْرَبُ مِنْ مَاءٍ فِيهَا طَيِّبٍ ، قَال أَنَسٌ رَاوِي الْحَدِيثِ فَلَمَّا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الآْيَةُ : { لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ } قَامَ أَبُو طَلْحَةَ إِلَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَال : يَا رَسُول اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُول : { لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ } وَإِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرَحَاءُ ، وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلَّهِ ، أَرْجُو بِرَّهَا وَذُخْرَهَا عِنْدَ اللَّهِ فَضَعْهَا يَا رَسُول اللَّهِ حَيْثُ أَرَاكَ اللَّهُ قَال : فَقَال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : بَخٍ ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ. وَكَانَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ يَشْتَرِي أَعْدَالاً مِنْ سُكَّرٍ وَيَتَصَدَّقُ بِهَا ، فَقِيل لَهُ : هَلاَّ تَصَدَّقْتَ بِقِيمَتِهَا ؟ قَال : لأِنَّ السُّكَّرَ أَحَبُّ إِلَيَّ فَأَرَدْتُ أَنْ أُنْفِقَ مِمَّا أُحِبُّ.

Artinya: “dan maknanya adalah, kalian tidak akan pernah orang-orang baik sampai kalian menafkahkan dari apa yang kalian cintai, yaitu harta-harta yang berharga dan mulia, dan para shahabat radhiyallahu ‘anhum, jika mereka mencintai sesuatu mereka menjadikannya untuk Allah Ta’ala, terlah disebutkan dalam hadits muttafaqun ‘alaihi, bahwa Abu Thalhah, beliau adalah seorang dari kaum Anshar yang paling banyak hartanya di kota Madinah berupa kurma, dan harta yang paling ia cintai adalah Bairuha’, dan ia berhadapan dengan masjid, dan nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sering masuk ke dalamnya dan meminum dari airnya yang baik, berkata Anas yang meriwayatkan hadits, ketika turun ayat ini { لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ } bangunlah Abu Thalhah menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman { لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ } (Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan sehingga kalian menafkahkan dari apa yang kalian cintai), dan sesungguhnya harta yang pling aku cintai adalah Bairuha’, maka ia menjadi sedekah untuk Allah, aku berharap kebaikannya dan simpanan (pahala)nya di sisi Allah, maka letakkanlah wahai Rasulullah dimana yang Allah beritahukan kepadamu”, lalu Rasulullah bersabda: “Bakhkhin (beruntung) itu adalah harta yang mendatangkan keuntungan.”
Umar bin Abdul Aziz sering membeli beberapa gula kemudian beliau bersedekah dengannya, lalu beliau ditanya: “Kenapa engkau tidak bersedekah dengan nilainya saja?”, beliau menjawab: “Karena gula adalah sesuatu yang aku sukai, maka aku ingin berinfaq dengan sesuatu yang aku sukai.” Lihat kitab Tafsir Al Qurthuby, 4/133, Tafsir Ruh Al Ma’any, 3/222,223.
AllahTa’ala melarang bersedekah dengan harta yang jelek dan buruk, Allah Ta’ala berfirman:

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الأْرْضِ وَلاَ تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلاَّ أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ }

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” QS. Al Baqarah: 267.
Maksud ayat ini adalah, janganlah kalian bersedekah dengan harta yang buruk dan janganlah kalian berbuat terhadap Allah dengan sesuatu yang kalian tidak rela untuk diri kalian sendiri.
Al Qurthuby rahimahullah setelah menguatkan pendapat bahwa maksud ayat ini adalah dalam perihal sedekah sunnah, sebagaimana perkataan Al Bara’, Hasan Al Bashry, Qatadah rahimahumullah, beliau berkata:

نُدِبُوا إِلَيْهِ أَنْ لاَ يَتَطَوَّعُوا إِلاَّ بِمُمْتَازٍ جَيِّدٍ

“Disunnahkan kepadanya agar tidak bersedekah sunnah kecuali dengan harta yang bagus dan baik.” Lihat kitaf Tafsir Al Qurthuby, 3/320,321.

9. Bersedekah kepada seorang yang sangat membutuhkan atau pada waktu yang sangat dibutuhkan, lebih berpahala dan lebih bermanfaat.

Poin ini sebenarnya masuk kepada poin yang kedua pada tulisan bag 01, tetapi karena poin ini sangat penting maka penulis menyendirikan poin ini, sehingga menjadi perhatian bagi penulis khususnya dan kaum muslim umumnya. Salah satu dalail yang mendasari akan hal ini adalah Firman Allah Ta’ala:

{ أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ }

Artinya: “atau memberi makan pada hari kelaparan.”
Disebutkan di dalam kitab Kasyf Al Qinna’, 2/296, bahwa bersedekah pada waktu yang diperlukan lebih utama dibandingkan pada selainnya.
Oleh sebab inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa seutama-utama sedekah adalah air, hal ini dimungkin karena air lebih dibutuhkan daripada selainnya.

عن سعد بن عبادة رضي الله عنه, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أفضل الصدقة سقي الماء

Artinya: “Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seutama-utama sedekah adalah memberi air (untum diminum).” HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 1113. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
Rabu, 11 Syawwal 1433H, Dammam KSA.

About Hamba Allah

Mulai memikirkan kehidupan setelah mati, pertanggungjawaban kelak Starting care about life after death and responsibility as a human to God
This entry was posted in fiqih. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s