AWAS !!!Faham Jahmiyyah

Awas, sekte Jahmiyah

Pernahkah anda mendengar orang yang mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak dimana-mana, mengingkari bahwa Allah diatas ‘Arsy, menolak semua sifat Allah, mengingkari takdir, Al-Qur’an adalah mahluk ??

Ketahuilah itu adalah sisa-sisa pemahaman sesat dari sekte jahmiyyah. Meskipun tokohnya Jahm bin Shafwan telah disembelih oleh Sulam bin Ahwaz al-Mazini penguasa Moru di akhir pemerintahan Bani Umaiyyah karena bahayanya pemikiran jahmiyyah, namun pemikirannya tidak mati dan menyebar luas sampai sekarang. Banyak yang tidak sadar bahwa dirinya terpengaruh paham Jahmiyah yang sesat ini.

A. SEJARAH JAHMIYAH ?

Para ulama menyebutkan bahwa Ja’d bin Dirham merupakan pencetus dan penebar embrio pertama pemikiran Jahmiyah yang kemudian digulirkan oleh Jahm bin Shafwan, sehingga pemikiran tersebut dinisbatkan kepadanya. Menurut salah satu riwayat bahwa Ja’d mengambil pemikiran dari Aban bin Sam’an, dan Aban mengambil dari Thalut anak saudara perempuan Lubaid bin al-A’sham, seorang Yahudi yang pernah menyihir Nabi. Lihat al-Milal wan Nihal, (173) karya as-Sahrastani, al-Farqu baina al-Firaq, hal.194 oleh al-Baghdadi dan Thabaqah al-Hanabilah (1/32) karya Ibnu Abu Ya’la, dan Maqalaat Islamiyyah (1/312).

B. KENAPA JAHMIYAH DIKATAKAN SESAT ?

Jahm bin Shafwan bisa dianggap penebar kesesatan kawakan, karena ia telah menghimpun tiga kebid’ahan yang sangat buruk dan berbahaya disamping beberapa bid’ah yang lain :

Pertama : Bid’ah Ya’thil yaitu peniadaan sifat-sifat Allah dan menyangka bahwa Allah tidak bisa disifati dengan sifat apa pun, karena pemberian sifat bisa mengakibatkan penyerupaan dengan makhluk-NyaAr-Radd ‘alaa Jahmiyyah, hal.17 karya Imam ad-Darimi, dan Majmuu’ Fataawaa (5/20)

Kedua : Bid’ah Jabr yaitu pernyataan bahwa menusia tidak mempunyai kemampuan dan daya upaya sama sekali bahkan semua kehendaknya muncul dalam keadaan dipaksa oleh kehendal Allah, maka ia menganggap perbuatan manusia dinisbatkan kepadanya hanya sekedar metaforaMaqalaat Islamiyyin al-Asy’ari (1/312)

Ketiga: Bid’ah Irja’ bahwa iman cukup hanya dengan ma’rifat, barang siapa yang inkar di lisan maka hal tersebut tidak membuatnya kafir sebab ilmu dan ma’rifat tidak bisa lenyap karena ingkar, dan keimanan tidak berkurang dan semua hamba setara dalam keimanannya serta iman dan kufur hanya dalam hati tidak dalam perbuatan. Maqalaat Islamiyyin (1/312)]

Asy-Syaikh ‘Abdul-Qadiir Al-Jiilaaniy rahimahullah (wafat 561 H) berkata dalam menjelaskan tentang Jahmiyah, dalam kitab Al-Ghun-yah li-Thaalibiy Thariiqil-Haqq (1/128; Daar Ihyaa At-Turaats, Cet. 1/1416) :

“Pasal : Adapun Jahmiyyah, maka ia dinisbatkan pada Jahm bin Shafwaan dimana ia berkata :

1. Iman adalah hanyalah ma’rifah kepada Allah dan Rasul-Nya, serta seluruh apa yang datang di sisinya;

2. Al-Qur’an adalah makhluq;

3. Allah tidak pernah berbicara kepada Musa (secara langsung);

4. Allah ta’ala tidak pernah berfirman (= menafikkan sifat kalaam – );

5. Allah tidak bisa dilihat;

6. Allah tidak diketahui mempunyai tempat tertentu;

7. Allah tidak mempunyai ‘Arsy dan Kursiy, dan Ia tidak berada di atas ‘Arsy;

8. Mengingkari adanya mawaaziin (timbangan-timbangan) amal (di akhirat);

9. Mengingkari adzab qubur;

10. Surga dan neraka telah diciptakan yang memiliki sifat fana (tidak kekal);

11. Allah ‘azza wa jalla tidak akan berbicara kepada makhluk-Nya dan tidak akan melihat mereka di hari kiamat;

12. Penduduk surga tidak akan (bisa) melihat Allah ta’ala dan tidak pula melihatnya di surga;

13. Iman itu cukup dengan ma’rifatul-qalb tanpa pengikraran dengan lisan; dan

14. Mengingkari seluruh sifat-sifat Al-Haqq (Allah) ‘azza wa jallaa”

C. PENDAPAT PARA IMAM/ULAMA AHLUSSUNNAH,

Jahmiyah sesat, bahkan ada ulama yang mengkafirkan.

Banyak ulama dari dulu hingga sekarang yang membuat bantahan terhadap Jahmiyyah. Diantaranya kitab “Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah” (Bantahan Terhadap Jahmiyyah) seperti yang ditulis oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Utsman bin Sa’id Ad-Darimi, Ibnu Mandah, Ibnu Baththah dan lain sebagainya.

Sungguh benar Imam Ibnu Qayyim rahimahullah yang telah berkata:

“Pertempuran antara ahli hadits dengan kelompok Jahmiyyah lebih dahsyat daripada pertempuran antara pasukan kafir dengan pasukan Islam”.

Berikut perkataan ulama tentang jahmiyah :

1. Abdullah bin Mubarak mengatakan, “Saya menukil ucapan orang Yahudi dan Nasrani lebih aku senangi daripada aku menukil ucapan Jahmiyah. Dan kebanyakan dalam firqah Islam, bahkan Abdullah bin Mubarak menyatakan kekafiran Jahmiyah”.[ Lihat al-Milal wa Nihal (1/134) karya as-Sahratani, dan Maqalaat Islamiyyin (1/198) karya al-Asy’ari.

2. Imam Syafii berkata terhadap Hafsh al Fard yang ketika mengatakan bahwa al Qur’an itu makhluk maka Syafii berkata, “Engkau telah kafir terhadap Allah” sebagaimana nukilan Lalikai dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah? Demikian vonis kafir yang diberikan kepada al Jahm bin Shofwan, Bisyr al Marisi, an Nazham dan Abu Hudzail al ‘Allaf sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Baththah dalam al Ibanah al Shughra.

Asy-Syaafi’iy berkata : ‘Barangsiapa yang berkata lafadhku dengan Al-Qur’an atau Al-Qur’an dengan lafadhku adalah makhluk, maka ia seorang Jahmiy (penganut paham Jahmiyyah)” [I’tiqaad Asy-Syaafi’iy oleh Al-Hakkaariy, hal. 23, tahqiq : Al-Barraak].

3. Adz Dzahabi dalam kitabnya Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar membawakan berbagai perkataan ulama masa silam yang jelas-jelas menyatakan bahayanya pemikiran Jahmiyah

4. Sufyan As-Tsauri mengatakan, Al-Quran kalamullah, barang siapa mengatakan ia mahluk maka sungguh kafir dan barang siapa ragu akan kekafirannya maka ia kafir(juga). Imam Ahmad berkata, Barang siapa yang mengatakan Al-Quran mahluk maka ia menurut kami kafir karena al-Quran bersumber dari Allah dan di dalamnya terdapat nama Allah azza wa jalla.

5. Imam ad-Darimi menuliskan dalam kitabnya ar-Rad aal Jahmiyah (Membantah Jahmiyah) satu bab husus yang membahas kekafiran Jahmiyah. Beliau menerangkan, Bab Pengambilan dalil Untuk Mengafirkan Jahmiyah, kemudian beliau berkata di bawahnya, Di Baghdad, seorang laki-laki mendebatku dalam rangka membela golongan Jahmiyah. Ia bertanya, Ayat apa yang Anda jadikan dasar untuk mengafirkan Jahmiyah, padahal kita dilarang mengafirkan ahli kiblat(Orang yang masih shalat), apakah dengan kitab yang dapat berbicara Anda mengafirkan mereka? Atau dengan dengan hadits? Atau dengan ijma? Maka aku jawab, Jahmiyah menurut pendapat Kami bukanlah ahli kiblat, dan kami tidaklah mengafirkan mereka kecuali dengan kitab yang tertulis, atsar yang masyhur dan kekafiran mereka telah masyhur kemudian beliau merinci dalil-dalil yang mengafirkan mereka

6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah meriwatyatkan, sebagian besar ulama mengafirkan Jahmiyah. Beliau berkata, Dan yang terkenal dari madzhab Imam Ahmad dan mayoritas ulama sunnah adalah mengafirkan Jahmiyah. Merekalah yang menolak sifat-sfat Allah dan ucapan mereka sangat jelas menentang apa yang dibawa rasululah.

7. Ibnul Qoyyim dalam syair Nuniyahnya mengatakan :

Sungguh limapuluh dari puluhan ulama telah mengafirkan mereka di berbagai negeri Al-Imam Al-Likai meriwaytkan dari mereka bahkan sebelumnya sudah ada yang mendahuluinya, at-Tahabrani.

8. Al-Baijuriy – seorang pembesar madzhab Asy’ariyyah – dalam kitab Hasyiyyah Al-Baijuriy ‘alaa Jauharit-Tauhiid dalam permasalahan yang sama. Ia berkata :

“Madzhab Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah menyatakan bahwa Al-Qur’an dengan makna al-kalaamun-nafsiy (yaitu : yang berasal dari diri Allah ta’ala) bukanlah makhluk. Adapun Al-Qur’aan dengan makna lafadh yang kita baca, maka ia adalah makhluk. Akan tetapi terlarang untuk dikatakan : Al-Qur’an adalah makhluk – yang dimaksudkan dengannya adalah lafadh yang kita baca, kecuali dalam konteks pengajaran. Karena, perkataan tersebut bisa disalahartikan bahwa Al-Qur’an dengan makna kalam-Nya ta’ala (al-kalaamun-nafsiy –) adalah makhluk. Dengan alasan itulah para imam melarang terhadap perkataan Al-Qur’an adalah makhluk” [hal. 160].

D. ANAK CUCU JAHMIYAH :

Diantara sekte yang mengusung faham jahmiyah adalah mu’tazilah, Asy-Ariyah, Qodariyah dan yang sependapat dengan mereka.

E KESIMPULANNYA,

Jahmiyyah, mereka dalam masalah tauhid adalah menolak sifat-sifat Allah. Sedangkan madzhab mereka dalam masalah takdir adalah menganut paham Jabriyah. Paham Jabriyah menganggap bahwa manusia adalah makhluk yang terpaksa dan tidak memiliki pilihan dalam mengerjakan kebaikan dan keburukan. Adapun dalam masalah keimanan madzhab mereka adalah menganut paham Murji’ah yang menyatakan bahwa iman itu cukup dengan pengakuan hati tanpa harus diikuti dengan ucapan dan amalan. Sehingga konsekuensi dari pendapat mereka ialah pelaku dosa besar adalah seorang mukmin yang sempurna imannya. Wallahul musta’an.

Maka berhati-hatilah kita akan subhat mereka, kita berdo’a semoga kita diselamatkan dari akidah sesat, amiin.

About Hamba Allah

Mulai memikirkan kehidupan setelah mati, pertanggungjawaban kelak Starting care about life after death and responsibility as a human to God
This entry was posted in islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s