Maafkan Aku Nak/siapapun

Pagi ini saya berusaha mencari dan menemukan sebuah catatan tentang maaf beberapa tahun yang lalu.

Bagiku, kata maaf sangatlah berharga. Aku tidak ingin permasalahan ini nantinya akan menyulitkanku di akhirat. Untuk itu, aku minta maaf padamu. Setidaknya ucapan permintaan maaf ini memperingan beban di pundakku. Aku sangat mengharapkan pemberian maaf darimu. Kalaupun aku tidak mendapatkan hal itu, setidaknya gugur satu kewajibanku untuk minta maaf padamu.
Dan aku selalu memaafkanmu atas perbuatan yang mungkin kau lakukan atau tidak sengaja kau lakukan. Meskipun ucapan maaf itu tidak akan keluar darimu. Aku akan berusaha untuk memaafkan dan mengikhlaskan semua itu. Setidaknya, gugur lagi satu kewajibanku untuk memaafkanmu.
Pertengkaran, perselisihan, kesalahpahaman. Seringkali kita menjumpainya dalam kehidupan kita. Boleh jadi timbul amarah di hati kita yang berbuah luka, dan bukan tak mungkin pula kita menorehkan sakit yang berujung luka pula di hati saudara kita. Ada yang bilang, luka di hati itu seperti paku. Dia menancap di kayu dan menimbulkan bekas lubang. Begitu juga amarah dari orang lain. Seringkali menimbulkan sakit hati yang tak kunjung hilang.

Tapi, bukan berarti kita bisa membiarkan paku dan lubang itu terus bersemayam di dalam lubuk hati kita. Di sinilah peran maaf itu bermain. Menurut saya, maaf adalah suatu mekanisme timbal balik. Maksudnya, suatu kesalahan akan selesai jika ada yang meminta maaf dan sebagai timbal balik, ada orang lain yang akan memberi maaf pula.

Dalam urusan dosa, kita hanya diminta untuk bertaubat dan mohon ampun pada-Nya. Sesimpel itu. Kenapa? Karena Allah maha Pemaaf. Dalam keadaan apapun, Allah akan memaafkan hamba-Nya yang memohon ampun pada-Nya. Habis sudah perkara, tinggal bagaimana kita mau sering-sering meminta maaf pada-Nya.

Beda halnya dengan manusia. Ketika kita berbuat salah (terlebih jika akhirnya menyeret pada dosa), kita tak cuma cukup memohon ampun pada Allah tetapi juga memohon maaf kepada orang yang bersangkutan. Karena manusia bukan Sang Maha Pemaaf, boleh jadi urusan maaf-memaafkan ini tidak semudah yang dibayangkan.

Meminta maaf menjadi sulit jika diri kita masih diliputi gengsi. Barangkali diri kita merasa berada di pihak yang benar. Mungkin pula kita terlalu tinggi hati untuk mengakui kesalahan diri kita. Atau kita terlalu gila hormat hingga merasa orang lain-lah yang seharusnya meminta maaf duluan pada kita.

Maka saya tuliskan di penggalan catatan saya di atas, sebuah kewajiban dari diri kitalah untuk meminta maaf. Paku dan lubang tak akan benar-benar hilang jika tidak ada yang mencabut paku itu. Kita lah yang harus mencabut paku yang ada di hati orang lain. Itulah tugas kita. Dan menjadi gugurlah kewajiban kita itu jika kata maaf sudah terlontar dari mulut kita.

Tapi, bagaimana dengan lubang yang masih tersisa? Di sinilah peran kedua dibutuhkan. Lubang akan sirna jika pemilik hati segera menutupnya. Artinya, luka di dalam diri seseorang akan musnah ketika kita sendiri sebagai pemilik hati mau menghilangkannya. Bagaimana caranya? Dengan memaafkannya.

Perkara memaafkan ini juga bukan urusan gampang. Kadang di mulut sudah mengatakan memaafkan tapi di hati belum demikian. Rasa sakit hati masih ada. Barangkali karena disimpan lama justru menjadi sebuah dendam. Dan jika diguyur sedikit minyak amarah saja, sudah terbakar gosong seluruh hati kita. Jadi benar-benar urusan diri kita sendiri apakah kita akan memaafkan atau tidak karena tergantung kita juga mau terus sakit hati atau tidak.

Sekalipun orang yang berbuat salah pada kita tidak meminta maaf, apakah kita akan merasa nyaman hidup dengan dengan paku menancap di hati? Maka, itulah yang saya tulis di catatan saya di atas: meskipun ucapan maaf tidak keluar darimu, aku akan memaafkanmu. Bukan apa-apa, saya hanya tidak mau hidup dengan terus-menerus membawa paku. Kalau memang bukan dia sendiri yang mencabut paku itu, biarlah saya yang mencabutnya dan saya pula yang menutup bekas lubangnya.

Simpel seharusnya. Perkara maaf dan memaafkan kembali lagi pada diri kita sendiri (pun Allah SWT yang semoga mengampuni). Jika memang mekanisme ini berjalan terus, bukankah tak akan ada lagi yang namanya sakit hati? Wallahua’lam.

IMG_0580.JPG

About Hamba Allah

Mulai memikirkan kehidupan setelah mati, pertanggungjawaban kelak Starting care about life after death and responsibility as a human to God
This entry was posted in islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s